Pages

Tampilkan postingan dengan label Reviewbuku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Reviewbuku. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 Agustus 2014

[Review] : Mrs. McGinty's Dead - Agatha Christie

Hollaa..


Dengan rasa malu, saya kembali lagi untuk nulis review buku yang baru selesai saya baca. (*malu: karena jarang banget update blog, maafkan saya.. maafkan saya).
Tambah malu lagi, karena sebenernya  buku ini udh setahun lalu saya beli tapi baru aja kelar dibaca.
**malu banget yaa..

Berawal dari berkunjung ke toko buku trus hasrat kangen sama karyanya Agatha Christie, akhirnya saya bawa pulang deh buku ini. Itu pun satu tahun yang lalu. :(

Belum banyak buku-buku Agatha Christie yang saya baca tapi saya berani ambil kesimpulan kalau saya suka sama tulisannya. Gimana caranya misteri suatu kasus terungkap, ya semacam itulah.

Tapi kembali lagi, itu semua soal selera masing-masing, hehehe...




Judul : Mrs. McGinty Sudah Mati - Mrs. McGinty's Dead
Pengarang : Agatha Christie
Penerbit : Gramedia
Tebal: 332 hal


Synopsis :

 Menurut kolonel Spench, James Bantley, yang akan segera menjalani hukuman gantung, karena dijatuhi vonis sebagai tersangka pembunuh Mrs. McGinty,

Kamis, 11 Juli 2013

(Review) Pillow Talk by Christian Simamora


nasib Pillow Talk, akibat ulah tikus jahanam .. :((


Judul               :  Pillow Talk
Pengarang       :  Christian Simamora
Penerbit          :  Gagas Media
Tebal              :  459 halaman
ISBN             :   978-979-78-0393-3





Sebenarnya ini bukan buku baru bagi saya. Kalau ngga salah ingat, buku ini saya beli sekitar akhir tahun 2009, yang waktu itu berlangsung grand opening salah satu the biggest book store in town di mall Grand Indonesia. Maklum, kalo lagi diskon, naluri buat borong buku nya gede banget, hehehehe....

Secara ga sengaja juga, buku ini ketemu lagi, setelah sekian lama hilang dari pandangan mata. Tepatnya, Sabtu, 6juli2013, lalu, saya berkunjung ke rumah orang tua, sambil iseng lihat buku-buku yang sudah lama dianggurin, eehh nemu deh buku ini. Awalnya sempat kesal, karena bagian bawahnya ternyata dipipisin sama tikus. Justru itulah yang bikin saya penasaran baca bukunya sebelum bukunya jadi makin parah rusaknya.



tumpukan buku yang harus segera pindah lemari

Well, kita bahas dulu dari cover nya.



Pillow Talks, dengan cover yang sederhana, tapi cukup mampu menarik perhatian saya waktu itu. Ya, khas dari penerbit Gagas Media memang selalu menerbitkan buku-buku dengan cover selalu yang eye catchy.

Sekarang isinya.

Buku ini bercerita tentang bagaimana persahabatan berubah menjadi cinta. Standard memang.
Bahasanya sangat ringan, konflik nya juga ringan banget. Seperti kebanyakan cerita nyata juga, kalau terkadang, persahabatan bisa berubah menjadi cinta sepasang kekasih. Begitu juga yang dialami oleh Jo dan Emi (tokoh utama dalam novel ini). Ternyata mereka telah memendam rasa suka, sejak dulu mereka masih sama-sama duduk di bangku sekolah. Sampai akhirnya mereka tumbuh dewasa, rasa itu ga hilang dari mereka. Kedekatan mereka yang boleh dibilang kadang menjadi batu sandungan bagi pasangan masing-masing. Oiya, mereka sendiri sebenarnya memiliki pasangan loh. Namun jauh di lubuk hati Jo dan Emi, sebenarnya merka saling cemburu terhadap pasangan masing-masing.

Buku ini bercerita sangat simpel dan sederhana. Penuturan bahasa nya pun sangat sederhana. Mungkin inilah buku yang durasinya paling cepat saya baca, sampai halaman terkahirnya.  Ga butuh sehari looh. Mungkin karena cerita dan bahasanya yang simple. Sebenarnya dari awal, saya sudah bisa menduga bagaimana akhir dari kisah Jo dan Emi. Hanya saya penasaran, seperti apa, konflik yang terjadi diantara mereka, jadi saya lahap habis semua lembarannya.

Penuturannya juga sangat simple. Di beberapa bab, ada terselip sedikit bagian sex. Hanya sedikit memang. Dan ada satu bagian yang lost, di kala Emi datang untuk dikenalkan dengan ibunya Dimas, sebagai calon istri, tapi ternyata, ibunya Dimas memiliki wanita lain, sebagai calon istri anaknya kelak. Saat itu, Emi merasa hancur, dia menghubungi Jo, yang sedang pedekate dengan Feli, sepupu Ajeng (teman dan rekan Emi), setelah itu lost aja gitu. Apa yang Jo katakan pada Emi saat itu, jadi seolah di skip. Karena pemaparan setelahnya, justru tentang bagaimana Emi memiliki hubungan One Night Stand dengan pria yang belum dikenalnya. Sangat tidak nyambung menurut saya. Ada beberapa bagian, yang seingat saya juga, seolah-olah ga nyambung dengan yang sebelumnya.

Karakter-karakter dalam novel ini juga,sangat simpel, tidak ada tokoh yang antagonis misalnya, yang menjadi pengganggu hubungan antara Jo dan Emi. Justru masalah timbul dari diri mereka sendiri. Sesuai dengan temanya yaitu novel dewasa, jadi terselip adegan-adegan dewasa juga di dalamnya. Ceritanya yang ringan mampu membuat saya ingin tau bagaimana kelanjutan kisahnya.

Sebagai buku Christian Simamora pertama yang saya baca, buku ini kurang sukses, membuat saya terkesan dan bilang woooww. Terlalu biasa. Perjalan persahabatan yang berubah menjadi perasaan cinta.

Sorry to say, tapi saya ga bisa kasih bintang banyak untuk rating buku bacaan saya, cukup 2.5 bintang aja kali ini.

But eniwey, itu penilaian secara subjectif yaa. Mungkin ada yang suka juga cerita di dalam buku ini. Karena ini semua hanyalah masalah selera. Hehehehe...


See you,

Els


Selasa, 25 Juni 2013

For One More Day by author Mitch Albom

 Buku karangan Mitch Albom ini akhirnya bisa aku selesaikan sampai halaman terakhir… yipiiieee… 
Walaupun, butuh waktu sekitar 2 mingguan buat baca sampe habis, bukannya kenapa2 sebenarnya, tapi karna belakangan ini, kerjaan di kantor sangat amat mebludak, jadi baca nya pun nyicil2 seiprit, itu pun terkadang nyolong waktu baca, saat pupup, (hihihihi, maaf ya agak vulgar). Tapi beneran loh, tempat nyaman untuk baca kali ini adalah di toilet kantor ku, tempat nya bersih, trus tenang bgt (waktu yang ku pilih juga memang pada saat sepi), dan ga jorok dan ga bau seperti yang ada di bayangan kalian. Dan pada saat baca di toilet, halaman yang habis kubaca juga, juga banyak, heheheh, lumayan banget kaan... :-)

Well eniwey, pertama dapat referensi buku ini, secara ga sengaja, lihat di social media (lagi-lagi twitter), tentang buku ini, kalau ngga salah, saat @gramedia-online posting, kalau cover terbarunya sudah keluar, ya pokoknya semacam gitu deh. Langsung dong, naluri sebagai pemburu buku ku tergerak dan menurut ku ga perlu di ragukan lagi, kalau tulisan Mitch Albom sudah pasti layak untuk dinikmati. Dan langsung lah, meluncur ke toko buku Gramedia Matraman, bawa pulang si For One More Day. Senaanggg… tapi ya gitu, belinya kapan, baca nya kapan (bad habit) Mungkin emang ini udah terlambat yaa, secara buku yang ini udah masuk cetakan ke-3, tapi gapapalah, daripada ga sama sekali.

Sekarang, mari kita bahas sedikit tentang content ceritanya.

Dilihat dari cover (ed. paling baru), covernya menceritakan banyak hal, seorang anak yang sedang bermain2 kecil dengan ibunya. Saat itu aku langsung menilai, pasti ceritanya bagus dan pasti sedih juga, karena biasanya kisah tentang seorang ibu pasti bisa membuatku meneteskan airmata. Dan benar terjadi sodara-sodaraaa…. Ditengah2 jam kerja sambil nyolong-nyolong membaca, air mata itu pun mengalir sangat derasnya. *agak lebay sedikit, eh tapi bener loh, nangis beneran.

Pernahkah kalian kehilangan orang yang sangat kalian sayangi ? Pernahkah kalian ingin bisa bertemu kembali dengan orang tersebut, bercakap-cakap dengannya, menjalani suatu cerita bersama ? Pernahkah kalian berharap mendapatkan satu waktu lagi kesempatan untuk memperbaiki segalanya, memperbaiki hubunganmu dengannnya, memperbaiki keadaan saat kalian masih bersama, sehingga penyesalan itu tidak akan pernah terjadi? Aku pernah. Sangat pernah. Tepat sekali membaca buku ini, menjelang 2 tahun kepergian ibunda ku. Dan harapan tadi adalah suatu harapan yang terjadi juga padaku, dan Charles Bonetto sangat beruntung, karena ia bisa menikmati 1 hari yang sangat berharga, dengan ibunya, di saat sang ibu sudah tidak ada lagi di dunia.

Bermula dari kisah Charley Benetto (Chick), yang mengalami kegagalan dan hancur sepeninggal kematian ibunya. Dikisahkan, Chick menjadi senang mabuk, mengalami depresi, hingga dia tidak diikut sertakan dalam acara pernikahan anaknya. Hal tersebut membuatnya hancur, sehingga Chick berniat untuk mengakhiri hidupnya. Hingga dia berniat untuk kembali ke rumah masa kecilnya di Pepperville Beach. Dari sinilah kisah ini bermula.
 
Pertemuan kembali dengan sang ibu, yang sempat membuat Chick merasa heran dan bingung, karena ibunya telah meninggal, tetapi mereka bisa bercakap-cakap, melewati satu hari bersama. Tanpa disadari, Chick diajak oleh sang ibu, untuk melewati 3 perhentian, dimana Chick mendapatkan banyak pelajaran yang sangat berharga, yang berhubungan dengan kehidupan, keluarga, dan hubungan dengan sesama. Terlebih lagi, Chick lambat laun mengenal sang ibu (yang mungkin sudah terlamabat bagi Chick untuk meminta maaf kepada ibunya, karena selama sang ibu masih hidup, Chick lebih memilih untuk “membela” sang ayah). Ayah dan ibu Chick, telah berpisah saat Chick dan adiknya Roberta masih sangat kecil. Dan Chick selalu merasa kalau ibunya adalah penyebab perpecahan ini. Dia merasa risih dan terganggu, dan mungkin juga merasa malu, karena status ibunya yang sudah janda. 

Dengan menggunakan alur yang cepat, dan merupakan pemaparan gaya campuran, aku dibawa ke masa lalu Chick. Pembaca disuguhkan, bagaimana Chick yang tidak membela sang ibu, bahkan ada satu waktu dia lebih membela sang ayah. Pelajaran-pelajaran berharga banyak sekali di sampaikan oleh ibu Chick, dalam perhentian-perhentian perjalanan mereka. Dengan bahasa yang ringan, mudah dimengerti, membuat pembaca (khususnya saya ya), terbawa dalam alur cerita, terhanyut kedalamnya, sehingga bisa lebih mudah menikmati setiap adegan dan juga plot nya.

Banyak petikan-petikan yang bisa membuat kita tersadar, bagaimana perjuangan seorang ibu, dalam memperjuangkan hidup, terlebih untuk anak-anaknya. Ibu Chick yang memilih untuk tidak menikah lagi, lebih memilih untuk mempersembahkan hidup dan kehidupannya, hanya untuk keberhasilan anak-anaknya, rela bekerja apa saja, demi kelangsungan hidupnya dan juga anaknya. 

Membuat aku, seolah tertampar, saat ibu Chick bilang, kalau terkadang anak menganggap diri mereka dalah beban, padahal bagi mereka, orangtua, anak merupakan jawaban sebuah doa (pg. 92). Wiiiiihhhhh…..

Kisah ketika  Chick tidak membela ibunya, saat-saat ketika ibu nya membela Chick. Mungkin bisa direfleksikan ke kehidupan kita saat ini. Sangat tidak seimbang, menyedihkan. Dimana anak-anak terlalu banyak berharap dari satu orang tua, dan memandang yang satu lagi lebih rendah standarnya. (pg.44) .

Saat anak mengecewakan orang tua, sama seperti Chick yang meninggalkan bangku kuliah demi bisbol (lagi-lagi itu merupakan obsesi ayahnya), si ibu hanya bisa bisa berpesan : “kembali menjalani apa yang pernah kautinggalkan, itu lebih sulit daripada yang kau kira.” (page 163) Wiiiiihhhhhh….. *lagi. 

Dan satu quote, yah aku anggap perkataan tersebut adalah quote, yaitu :

“kalau seseorang berada dalam hatimu, mereka tidak pernah benar-benar pergi. Mereka bisa kembali padamu, bahkan pada waktu-waktu yang tak terduga.” (ada di page 178, baris paling bawah)

Ya, dan aku pun sangat setuju itu, sangat setuju.

Dan seperti biasa, buku karangan Mitch Albom, dari beberapa buku yang telah kubaca, sarat dengan pesan-pesan moral, tentang pesan kehidupan. Buku ini bisa membuat pembaca, merefleksikan diri Chick Benetto, ke dalam diri nya, pelan-pelan mengikuti kisahnya. Mungkin banyak dari kita yang mempunyai penilaian yang salah terhadap orangtua. Tetapi, berbahagialah mereka yang masih bisa merasakan kasih seorang ibu, yang masih bisa melewati hari hingga saat ibu kita tua nanti nya, karena waktu tidak dapat kita ulang kembali.Hehehehe, jadi sok menggurui yaahh….  

Setiap kisah pasti memiliki cerita, demikian juga Chick Benetto dan ibunya. Kadang ceritanya sederhana dan kadang keras menghancurkan hati. Tapi dibalik semua ceritamu, terdapat cerita ibumu, karena ceritanya adalah awal dimulainya cerita mu. (page 241)

Dan akhir kata, aku harus kasih 5 bintang untuk For One More Day…. Yeaayyyyy….

Layaakkk booo….

Ringan, menyentuh, sarat dengan pesan kehidupan, cerita nya pun segar, dan tampak seperti nyata.

Selamat menikmati karya Mitch Albom ini temaaannss…. ^^

 

Subscribe to our newsletter